Loading...

Senin, 15 November 2010

Metode Pembelajaran Tolak Peluru dengan Model Langsung

BAB I
PENDAHULUAN

Pada bab pendahuluan ini diuraikan 6 hal sebagai berikut: (A) Latar Belakang Masalah  (B) Rumusan Masalah (C) Tujuan Penelitian (D) Manfaat Penelitian (E) Pentingnya Masalah untuk Diteliti, dan (F) Definisi Operasional, Asumsi dan Keterbatan
A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu usaha untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan (Sukintaka, 1992: 8). Melalui pendidikan diharap-kan terjadi proses transfer ilmu yang dapat membuat pelaku pendidikan mengalami perubahan dari yang tidak tahu atau kurang tahu menjadi tahu tentang apa yang dipelajarinya, sehingga membawa manfaat dalam kehidupan sehari-harinya.
Menurut Sekkap RI, 1989 (dalam Sukintaka, 1992: 8), ”Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan, dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian mantap yang mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Hakekat sebenarnya dari pendidikan di Indonesia adalah pembangunan manusia Indonesia dari segala aspek dan ruang lingkup menjadi manusia yang seuthnya. Suatu usaha pendidikan menuju pada tujuan yang telah dirumuskan, sehingga para tenaga pendidik harus menentukan sistem yang tepat guna bagi muridnya. Tepat guna disini adalah sebuah proses pendidikan yang tepat pada kebutuhan peserta didik dan berguna bagi kemajuan bangsa dan negaranya.
Pendidikan jasmani di sekolah mutlak sangat dibutuhkan. Bukan hanya meningkatkan kebugaran jasmani anak, melainkan juga memberi gerak yang bervariasi dan bermakna bagi anak. Pandangan tentang pendidikan jasmani juga bersifat universal, namun semua itu bermuara pada makna pendidkan jasmani yang membangun manusia seutuhnya. Seperti yang terungkap pada Dirjendikti, 1991 (dalam Sukintaka, 1992: 9-10), “Pendidikan jasmani merupakan proses interaksi antara peserta didik dan lingkungan yang dikelola melalui aktivitas jasmani secara sistematik menuju pembentukan manusia Indonesia seutuhnya”. 
Oleh karena itu pelaksanaan penjas di sekolah reguler maupun pendidikan luar biasa harus benar-benar mencapai tujuannya. Penyampaiannya dapat dipermudah dengan 1) pemilihan metode ajar, 2) pemilihan materi ajar, 3) strategi dan model pembelajaran. Tentunya proses pendidikan jasmani di sekolah disampaikan melalui proses belajar mengajar. Untuk menjalankan proses pendidikan, kegiatan belajar dan pembelajaran merupakan suatu usaha yang amat strategis untuk mencapai tujuan yang diharapkan (Husdarta dan Yudha, 2000: 1). Hal ini dimaksudkan agar  guru tidak bertindak sebagai seorang diktator yang hanya mendikte, namun juga menggali kemampuan siswa. Dari proses tersebut, diharapkan terjadi sebuah interaksi pembelajaran positif.
Guru dapat menggunakan berbagi metode pembelajaran, teknik, dan pendekatan pembelajaran untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal. Teknik dan metode pembelajaran yang dipilih harus pembelajaran dalam bentuk pemberian tugas proyek demonstrasi, pemecahan masalah untuk menghasilkannya yang melibatkan partisipasi aktif siswa. Guru perlu mempertimbangkan model pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi yang dikembangkan (Asra dan Sumiati, 2007: 8). Tidak dapat dipungkiri bahwa pemilihan terhadap metode ajar dan model pembelajaran yang tepat dapat mempermudah prose transfer ilmu dalam belajar mengajar.
Secara umum banyak model pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran. Macam-macam model pembelajaran menurut Trianto dapat digolongkan sebagai berikut, 1) model pengajaran langsung, 2) pembelajaran kooperatif, 3) pengajaran berdasarkan masalah, 4) pengajaran dan pembelajaran kontekstual, 5) pembelajaran model diskusi, 6) model pembelajaran inquiri, 7) strategi belajar PQ4R, 8) strategi belajar peta konsep. Salah satu model pembelajaran yang cocok diterapakan untuk siswa adalah model pembelajaran langsung.
Menurut Arends, 1997 (dalam Trianto, 2007: 29), “Model pembelajaran langsung adalah salah satu pendekatan mengajar yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan proseduran yang tersetruktur dengan baik yang diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah”. Pembelajaran langsung dipilih karena didalamnya dapat berbentuk ceramah, demonstrasi, pelatihan atu praktek, dan kerja kelompok. Pada tahap ceramah pada awal pertemuan diharapkan guru dapat memberikan motivasi terhadap siswa. Suatu realita sehari-hari di dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) bidang studi Pendidikan Jasmani berlangsung, masih banyak guru belum memberdayakan seluruh potensinya dalam mengelola pembelajaran baik dalam menguasai materi maupun dalam menggunakan media pembelajaran melainkan hanya menggunakan talk and chalk (berbicara dan kapur tulis), sementara materi-materi dalam Pendidikan Jasmani (Penjas) dilakukan tidak hanya di dalam ruangan saja atau kelas yang dalam arti teori melainkan praktek di lapangan.
Dalam KBM bidang studi pendidikan jasmani yang efeknya dapat mengkondisikan siswa dalam situasi Duduk Diam Catat Hafal (DDCH), tentunya bertentangan dengan tujuan pengajaran pendidikan jasmani yang sangat kompleks yang seharusnya bertujuan untuk meningkatkan aspek kognitif, afektif, psikomotorik, dan sosial, melainkan hanya aspek kognitifnya. Model pembelajaran langsung diberikan bertujuan untuk bagaimana siswa menangkap meteri itu dengan maksimal dan terstruktur, selama siswa tidak  pernah tahu apa itu tolak peluru dan cara melakukannya. Gejala yang terjadi di lapangan adalah pada saat pengajaran materi ini, siswa hanya dapat membayangkan saja, tahu secara tertulis namun tidak pernah merasakannya secara nyata. Sementara jika dilihat dalam silabus materi jelas-jelas dimasukkan menjadi salah satu materi yang harus diterima siswa baik dalam bentuk teori maupun dalam praktek.
Jadi, hal ini sangat perlu dikaji dan benar-benar diperhatikan karena sangat besar manfaatnya baik bagi kelancaran proses KBM, maupun pengembangan pengetahuan siswa mengenai materi-materi dalam pendidikan jasmani secara menyeluruh.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka masalah yang dapat dirumuskan dalam penelitian ini sebagai berikut ”seberapa efektifkah model pembelajaran tolak peluru dengan metode pembelajaran langsung pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Baron Nganjuk?”.
C.    Tujuan Penelitian
Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang efektif atau tidak efektifnya model pembelajaran tolak peluru dengan metode pembelajaran langsung pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Baron Nganjuk.
D.    Manfaat Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat beberapa manfaat, manfaat tersebut adalah :
1.    Mengetahui pembelajaran tolak peluru menggunakan model pembelajaran langsung melalui pendekatan bermain.
2.    Mengetahui respon siswa terhadap materi ajar tolak peluru.
3.    Mengetahui tingkat keefektifan pembelajaran tolak peluru menggunakan model pembelajaran langsung melalui pendekatan bermain terhadap siswa.


E.     Pentingnya Masalah untuk Diteliti
Masalah ini penting untuk diteliti, agar dapat mengetahui tentang bagaimana pengaruh model pembelajaran tolak peluru dengan metode pembelajaran langsung dalam meningkatkan hasil pembelajaran pendidikan jasmani di tingkat SLTP.
F.     Definisi Operasional, Asumsi, dan Keterbatasan
1.Definisi Operasional
a.    Model Pembelajaran Langsung
Arends dalam Trianto (2007: 29) berpendapat bahwa model pembelajaran langsung adalah salah satu pendekatan mengajar yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan proseduran yang tersetruktur dengan baik yang diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah.
b.      Pembelajaran Tolak Peluru
Tolak peluru masuk kategori pada nomor lempar, akan tetapi istilah yang dipergunakan bukan lempar peluru, karena berdasarkan cara melepaskan peluru dengan cara didorongkan ke depan atau ditolakkan ke depan. Tolak peluru dikenal dengan istilah the shot put (Hudaya, 2009: 49).
Tolak peluru sendiri adalah suatu bentuk gerakan menolak atau mendorong suatu alat yang bundar dengan berat tertentu yang terbuat dari logam (peluru) yang dilakukan dengan satu tangan untuk mencapai jarak yang sejauh-jauhnya (Syarifuddin, 1992: 144).
c.       Ketuntasan belajar siswa
Ketuntasan belajar siswa dapat dilihat berdasarkan kurikulum pendidikan dasar tahun 1994 yaitu bila seorang siswa dikatakan tuntas belajar bila telah mencapai skor lebih atau sama dengan 65 dan dinyatakan tuntas belajar bila dalam kelas terdapat 85 % atau lebih yang telah mencapai daya serap perorangan 65 % atau lebih (Warji, 1983; 12).
2.      Asumsi
Asumsi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SLTP Negeri 1 Baron Kabupaten Nganjuk memiliki keterampilan dan mempunyai pengalaman belajar tolak peluru yang sama, dan tiap-tiap individu memiliki kemampuan tolak peluru yang setara.
3.Keterbatasan
            Dalam penelitian ini, penelitian hanya membatasi pada efektifitas model pembelajaran tolak peluru dengan metode pembelajaran langsung untuk kelas VII.
BAB III
METODE PENELITIAN

Pada bab metode penelitian ini diuraikan 7 hal sebagai berikut: (A) Jenis dan Desain Penelitian  (B) Tempat dan Waktu Penelitian (C) Populasi dan Sampel (D) Variabel Penelitian (E) Intrumen Penelitian (F) Prosedur Pengumpulan Data, dan (G) Teknik Analasis Data.  
A. Jenis dan Desain Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini yaitu jenis penelititan eksperimen karena untuk mengetahui sejauh mana perbedaan yang terjadi pada variabel terikat betul-betul disebabkan oleh perlakuan (treatment) yang diberikan. Dalam desain eksperimen ada empat prinsip dasar yang perlu diperhatikan, yaitu: (1) penempatan subjek  secara acak, (2) adanya perlakuan, (3) adanya kelompok kontrol, dan (4) adanya ukuran keberhasilan (Maksum, 2008 : 47).
2. Desain Penelitian
Dalam desain ini tidak ada kelompok kontrol, subjek tidak ditempatkan secara acak. Kelebihan desain ini adalah dilakukannya pre-test dan  post-test sehingga dapat diketahui dengan pasti perbedaan hasil akibat perlakuan yang diberikan (Maksum, 2008 : 47-48). Dalam penelitian ini menggunakan desain penelitian One Group Pre-test-Post-test Design dengan pola sebagai berikut :



One Group Pre-test – Post-test Design
Keterangan: T1 : Pre-test
x : pelakukan
T2 : Post-test
(Maksum, 2008 : 47-48).
B. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 1 Baron Nganjuk
Penelitian ini dilakukan di SMPN 1 Baron Nganjuk semester ganjil tahun ajaran 2010/2011.
2. Penelitian ini dilakukan selama 3 kali tatap muka.
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
"Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian" (Arikunto, 2006: 130). Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas VIII di SMPN 1 Kertosono Nganjuk. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas VIII di SMPN 1 Baron Nganjuk, anggota populasi sebanyak satu kelas dengan jumlah 35 siswa. Sesuai dengan pendapat Arikunto (2006:134) yang menyatakan bahwa “apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua hingga penelitiannya menggunakan penelitian populasi, jika jumlah subyeknya besar lebih dari 100 dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih”.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2006 : 131). Dalam mengambil sampel, menurut Arikunto (2006 : 134) “apabila subjek kurang dari 100, sebaiknya diambil semua sehingga penelitian merupakan populasi. Berdasarkan pendapat tersebut, sampel yang digunakan adalah siswa kelas VII A di SMPN 1 Baron Nganjuk sebanyak 35 siswa.
D. Variabel Penelitian
Menurut Maksum (2008 : 30), variabel adalah suatu konsep yang memiliki variabillitas atau keragaman yang menjadi fokus penelitian. Sedangkan menurut Sugiyono (2008 : 38), adalah sesuatu hal yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti hampir dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Variabel penelitian ini sendiri adalah :
1) Variabel bebas penelitian ini adalah metode pembelajaran langsung.
2) Variabel terikat penelitian ini adalah pembelajaran tolak peluru.
E. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian merupakan alat bantu untuk mendapatkan hasil data yang diinginkan. Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah Formative Class Evaluation (FCE), data observasi kelas penjas yang dilakukan setiap tatap muka pembelajaran, dan lembar penilaian praktek yang diisi oleh guru pada tes hasil belajar langsung.
Data FCE dikumpulkan sesaat setelah pembelajaran dikjasor selesai. Siswa yang mengikuti pembelajaran diberikan selembar kuisioner FCE dan diminta untuk memberikan tanda cek (√) pada pilihan jawaban sesuai dengan butir pertanyaan dalam kuisioner tersebut. FCE terdiri dari 9 pertanyaan yang terdiri dari 4 komponen pokok yaitu hasil, kemauan, metode, dan kerjasama. Hasil dijabarkan dalam pertanyaan 1, 2, 3; kemauan dijabarkan dalam pertanyaan 4, 5; metode dijabarkan dalam pertanyaan nomor 6, 7; dan kerjasama dijabarkan dalam pertanyaan nomor 8, 9. Kuisioner ini dirancang untuk siswa, sesaat setelah guru selesai memberikan materi pembelajaran dikjasor.
Menurut Novit dalam skripsi Saputro (2009:23), data observasi kelas dikjasor dikumpulkan melalui observasi atau pengamatan langsung pada saat pembelajaran dikjasor berlangsung. Pengamatan ini menggunakan lembar observasi kelas dikjasor dan dilakukan oleh 3 orang mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi Universitas Negeri Surabaya. Lembar observasi kelas dikjasor memuat 3 komponen, yaitu persiapan guru dalam melaksanaan pembelajaran, dan aktivitas siswa.
Instrumen yang digunakan dalam persiapan penelitian ini adalah :
1. Rencana Pembelajaran
Rencana pelajaran ini memuat :
a. Standar kompetensi
b. Kompetensi dasar
c. Indikator
d. Tujuan pembelajaran khusus
e. Materi pokok
f. Metode pembelajaran
g. Sumber dan media pembelajaran
h. Strategi pembelajaran
2. Lembar observasi
Lembar observasi merupakan lembar kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam pembelajaran. Data observasi kelas penjas yang dilakukan setiap tatap muka pembelajaran.
3. Lembar Formative Class Evaluation (FCE)
Lembar Formative Class Evaluation merupakan lembar kuisioner yang harus diisi oleh siswa setiap setelah proses pembelajaran selesai. 
4. Alat evaluasi berupa tes
a. Tes Unjuk Kerja
Tes ini berupa tes secara langsung dengan melakukan materi tolak peluru sesuai dengan prosedur yang sesuai dan diukur.
b. Tes evaluasi kinerja
Teknik awalan, teknik tolakan, dan teknik lanjutan setelah tolakan.
F. Prosedur Pengumpulan Data
Langkah-langkah yang ditempuh dalam pengumpulan data adalah :
1. Mengadakan observasi di SMP tempat penelitian serta mencatat kelengkapan peralatan yang dibutuhkan.
2. Menyiapkan 3 orang yang akan melakukan pengamatan dan mengisi lembar observasi kelas yang terlampir di lampiran 2.
3. Menyiapkan kuesioner FCE yang akan dibagikan kepada seluruh siswa yang mengikuti pembelajaran disetiap tatap muka yang terlampir di lampiran 4.
4. Menyiapkan instrumen penilaian terhadap hasil belajar tolak peluru yang akan diisi oleh peneliti yang terlampir dilampiran 1.
5. Melakukan penelitian selama 3 kali tatap muka di SMPN 1 Baron Nganjuk.
6. Merekap semua data yang diperoleh dalam penelitian dan memasukkan hasil rekap data pada masing-masing tabel yang sudah disediakan.
7. Membuat kesimpulan dari hasil pengolahan data.
Dalam melaksanakan penelitian ini dibagi menjadi dua tahap, yaitu:
a. Tahap persiapan
1. Menentukan materi pelajaran 
2. Membuat kompetensi dasar
Berdasarkan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar dibuat berdasarkan hasil pemilihan materi pelajaran tolak peluru.
3. Memilih model pembelajaran
Berdasarkan latar belakang dan batasan masalah yang diuraikan di Bab I, maka model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran langsung.
4. Menyusun rencana pembelajaran
Rencana pembelajaran merupakan skenario pembelajaran yang akan dilakukan oleh guru selama proses belajar mengajar berlangsung.
5. Menyusun lembar observasi
Lembar observasi disusun sendiri oleh peneliti yang disesuaikan dengan materi tolak peluru.
6. Menyusun lembar evaluasi kinerja 
Lembar evaluasi kinerja disusun oleh peneliti dan disesuaikan dengan rencana pembelajaran dan indikator.
7. Menyusun tes 
Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah pre test dan post tes (tes awal dan tes akhir), tes tersebut disusun peneliti dengan langkah-langkah sebagai berikut:
(a) Menentukan jenis tes yang dipakai yaitu tes unjuk kerja siswa di lapangan disesuaikan dengan indikator dan tes evaluasi kinerja.
(b) Mengkonsultasikan kepada dosen pembimbing.
b. Tahap pelaksanaan
Dalam tahap pelaksanaan ini dilakukan kegiatan sebagai berikut :
1. Di awal proses belajar
Siswa diberikan tes awal karena diasumsikan tingkat pengetahuan awal siswa sama karena sebelumnya siswa belum pernah mendapatkan materi tolak peluru.
2. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan rencana pembelajaran.
3. Pemberian tes evaluasi kinerja
Tes ini diberikan pada saat pelajaran berlangsung untuk mengetahui pemahaman siswa.
4. Pemberian tes formatif
Tes ini diberikan setelah semua materi pokok bahasan sistem respirasi berakhir untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa.
c. Alat-alat yang digunakan
Alat-alat penunjang yang dipergunakan dalam proses penelitian antara lain:
1. Lapangan
Sebagai tempat melakukan pre-test, post-test dan treatment.
2. Peluru 3 kg dan 4 kg
Media yang digunakan dalam pembelajaran pada saat melaksanakan pre-test dan post-test.
3. Alat Tulis
Alat yang digunakan untuk mencatat hasil pre-test dan post-test
4. Meteran
Alat yang digunakan untuk mengukur hasil tolakan.
G. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh akan dianalisis dengan ketentuan batas ketuntasan belajar, berdasarkan kurikulum SLTP 1994, yang menyatakan bahwa seorang siswa dikatakan tuntas belajar bila telah mencapai skor  65 dan suatu kelas dinyatakan tuntas belajar bila dalam kelas terdapat 85 % atau lebih yang telah mencapai daya serap perorangan 65 % atau lebih dan dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif berdasarkan atas skor yang tercantum dalam formative class evaluation.
 Tabel Kategori Skor Lembar FCE dalam Formative Class Evaluation.
Tabel. 2 Kategori Skor Lembar FCE
SKOR NILAI KATEGORI
2,77 - ke atas 5 Sangat Baik
2,58 - 2,76 4 Baik
2,34 - 2,57 3 Sedang
2,15 - 2,33 2 Kurang
2,14 - ke bawah 1 Kurang Sekali

Dari persentase tersebut data yang diperoleh dideskripsikan dengan kalimat. Untuk mempermudah penafsiran terhadap hasil analisis persentase digunakan klasifikasi persentase berupa penafsiran dengan kalimat yang bersifat kualitatif, sebagai berikut:
Tabel. 3 Kategori Skor Lembar FCE Persentase
PERSENTASE KATEGORI
0 % - 20 % Kurang sekali
21 % - 40 % Kurang
41 % - 60 % Cukup
61 % - 80 % Baik
81 % - 100 % Baik sekali

Ketuntasan belajar ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa, kriteria yang digunakan adalah dengan melihat hasil pengamatan langsung dan hasil kuisioner dihubungkan dengan ketuntasan yang dicapai siswa secara individu atau klasikal (Warji, 1983:17-18).
1. Perhitungan hasil pengamatan langsung untuk menyatakan ketuntasan belajar secara individual yang dianalisis secara deskriptif kuantitatif.
=  Skor yang diperoleh    x   100%
       Skor maksimum
2. Perhitungan hasil pengamatan langsung untuk menyatakan ketuntasan belajar secara klasikal yang dianalisis secara deskriptif kuantitatif.
=  Jumlah siswa yang tuntas   x  100 %
   Jumlah siswa seluruhnya  
3. Perhitungan hasil kuisioner untuk menyatakan ketuntasan belajar secara klasikal yang dianalisis secara deskriptif kuantitatif.
a. menghitung rata-rata hasil kuisioner menggunakan rumus :
    (Sudjana, 1996:67).
Dengan :
   = nilai rata-rata hasil kuisioner
  = jumlah data hasil kuisioner
n = jumlah siswa seluruhnya
b. menghitung standar deviasi hasil kuisioner menggunakan rumus :
   (Sudjana, 1996:93).
Dengan :
S = standar deviasi
  = data hasil kuisioner
   = nilai rata-rata hasil kuisioner
n-1 = derajat kebebasan (dk)
c. menghitung uji rata-rata hasil kuisioner menggunakan rumus :
   (Sudjana, 1996:227).
Dengan :
t = uji t (uji rata-rata)
   = nilai rata-rata hasil kuisioner
  = nilai terendah dari data kuisioner
S = standar deviasi
n = jumlah siswa seluruhnya
Dengan catatan :
  :   = 2,44 ; pemberian contoh langsung pada materi pelajaran 
yang diterapkan melalui kuisioner tidak menambah pemahaman siswa dengan nilai kuisioner sebesar 2,44.
  :   > 2,44 ;  pemberian contoh langsung pada materi pelajaran
yang diterapkan melalui kuisioner menambah pemahaman siswa dengan nilai kuisioner paling sedikit sebesar 2,44.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar